LITERASI BUDAYA SUNDA PADA INDIVIDU TIONGHOA DI SUMEDANG

Santi Susanti, Suwandi Sumartias

Sari


 

Abstract

 

This study aims to describe a dance artist, Memey Maria, in preserving and inherit Sumedang classical dance to the younger generation and explore cultural literacy process she went through in loving the Sumedang classical dance. Occupied descriptive qualitative methods with a phenomenological approach, the process of collecting data is done through interviews, direct observation, and document review. The results showed that Memey's efforts to maintain the classical dance of Sumedang were based on her love for Sundanese culture since she was a kid. Memey interacts and communicates with Sundanese around her every day. She learned Sumedang classical dance from the maestro, Raden Ono Lesmana Kartadikusumah. The regeneration process is done by teaching the dance to students at Universitas Sebelas April (Unsap), Sumedang. Although there were fewer participants, Memey still exited in teaching the dance to female students. The conclusion of this study shows that communication plays an important role in the process of culture learning. Internalization will be formed inside the individual if the cultural learning process continuously takes place.

 

Keywords: Sumedang classical dance, learning culture, regeneration, Chinese.

 

Abstrak

 

Penelitian ini bertujuan mengungkapkan upaya Memey dalam memertahankan dan mewariskan tarian klasik Sumedang kepada generasi muda serta menggali proses literasi budaya yang Memey jalani sehingga mencintai tarian klasik Sumedang. Melalui metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan fenomenologi, proses pengumpulan data dilakukan melalui wawancara, pengamatan langsung serta penelaahan dokumen. Hasil penelitian menunjukkan, upaya Memey memertahankan tarian klasik Sumedang agar tetap hidup didasari oleh rasa cintanya akan budaya Sunda yang melingkupinya sejak ia kecil. Dalam kehidupan sehari-hari, Memey berinteraksi dan berkomunikasi dengan orang Sunda di sekelilingnya. Ia pun belajar langsung tarian klasik Sumedang dan maestronya, yakni Raden Ono Lesmana Kartadikusumah. Proses regenerasi dilakukan dengan mengajarkan tarian tersebut kepada mahasiswi di Universitas Sebelas April (Unsap), Sumedang. Meski yang ikut tidak banyak, tapi Memey tetap semangat untuk mengajarkan tarian tersebut kepada pada mahasiswi. Kesimpulan penelitian ini menunjukkan, komunikasi berperan penting dalam proses belajar budaya. Internalisasi baru akan terbentuk dalam pribadi individu, jika proses pembelajaran budaya berlangsung secara berkesinambungan.

 

Kata kunci: Tarian klasik Sumedang, belajar budaya, regenerasi, Tionghoa.


Teks Lengkap:

PDF

Referensi


DAFTAR PUSTAKA

Bajari, A.(2009). Konstruksi Makna dan Perilaku Komunikasi pada Anak Jalanan di Cirebon. Disertasi. Bandung: UniversitasPadjadjaran.

Bogdan, R. and Taylor, S..J. (1975). Introduction to Qualitative research methods. USA: A Wiley-Interscience Publication

Bruner, E.M.. (1974). The Expression of Ethnicity in Indonesian, Dalam Urban Ethnicity. Abner Cohen (eds). London: Tavistock Publication.

Bryman, A. (2004). Social Research Methods, Second Edition. Newyork: Oxford University Press.

Creswell, J. W. 1998. Qualitative Inquiry and Research Design: Choosing Among Five Traditions. USA: Sage Publication Inc.

Damayani, N.A. (2011). Komunitas Literer Bandung: Sebuah Konstruksi Sosial (Studi Fenomenologi pada Individu yang terlibat Pergerakan Literasi Informasi). Disertasi. Bandung: UniversitasPadjadjaran.

Koentjaraningrat. (2009). Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta: Rineka Cipta.

Liliweri, A. 2003. Dasar-Dasar Komunikasi Antarbudaya. Yogyakarta. Pustaka Pelajar.

Lubis, L.A. (2012). Komunikasi Antarbudaya Etnis Tionghoa dan Pribumi di Kota Medan. Jurnal Ilmu Komunikasi 10(1): 13-27.

Naibaho, K. (2008). Menciptakan Generasi Literat Melalui Perpustakaan. Tersedia online di http://eprints.rclis.org/12549/1/Menciptakan_Generasi_Literat_Melalui_Perpustakaan.pdf.

Ritzer, G.(1975). Sociology: A Multiple Paradigma Science. Boston: Allyn and Bacon.

Rivaie, W. (2010) Asimilasi Nilai Kekeluargaan Lintas Etnik: Studi Analisis tentang Transformasi Nilai Kekeluargaan Dayak, Melayu, dan Transmigran Jawa Timur di Desa Rasau Jaya Kabupaten Kubu Raya Kalimantan Barat. Disertasi, Bandung: Universitas Pendidikan Indonesia.

Schutz, A.(1967). The Phenomenology of Social World. Translated by George Walsh And Frederick Lehnert. Illionis: Northwestern University Press

Setyautama, S. (2008). Tokoh-tokoh Etnis Tionghoa di Indonesia. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia

Susanti, S, dan Permana, R.S.M. (2017). Pembelajaran Literasi Budaya Sunda pada Peserta Didik SD Bestari Utami Kabupaten Garut Jawa Barat. Dharmakarya, 6(2): 106-110.

Lain-lain:

http://www.inilahkoran.com/read/detail/2076758/masjid-agung-dibangun-bersama-etnis-tionghoa)

http://historiamag.blogspot.com/2013/04/Memey-penari-klasik-sumedang-murid.html

http://sumedangkab.bps.go.id/subyek/jumlah-penduduk; 8/1/2015

http://travel.kompas.com/read/2012/01/07/06465637/tahu.sumedang.lezat.berkat.air.tampomas

www.kabarsumedang.com Masjid Agung dibangun bersama Etnis Tionghoa.

www.inilahkoran.com/read/detail/2076758/masjid-agung-dibangun-bersama-etnis-tionghoa




DOI: http://dx.doi.org/10.33603/signal.v7i2.2413

Refbacks

  • Saat ini tidak ada refbacks.


This work is licensed under a Creative Commons Attribution - Share Alike 4.0 International License