PENGALAMAN BERLITERASI PENULIS DI KOTA BANDUNG DALAM PEMERTAHANAN BUDAYA LOKAL SUNDA

Santi Susanti, Kokom Komariah

Sari


Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan pengalaman berliterasi penulis di Kota Bandung dalam menjalani perannya sebagai penulis Sunda.Pokok bahasan yang digali meliputi aspek pendorong menjadi penulis Sunda, pilihan jenis dan tema tulisan untuk menyampaikan perasaan dan pikiran penulis, serta aspek harapan dalam menjalani peran sebagai penulis Sunda.Metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi digunakan untuk menguraikan pengalaman pada penulis Sunda dalam berliterasi. Wawancara mendalam dan penelusuran literatur digunakan untuk memperoleh data dari 8 penulis yang menjadi informan penelitian ini. Hasil studi menunjukkan, lingkungan dan kebiasaan membaca menjadi faktor utama yang mendorong penulis untuk menulis dalam bahasa Sunda. Tulisan fiksi dan nonfiksi menjadi pilihan penulis untuk menyampaikan pikiran dan perasannya melalui tulisan. Masalah sosial, sejarah klasik Sunda, kearifan lokal, humor, dan peristiwa aktual menjadi pilihan tema dalam tulisan para informan. Adapun yang menjadi aspek harapan sebagai penulis Sunda adalah memelihara keberlangsungan bahasa Sunda, serta berharap dapat membawa budaya Sunda ke peradaban global.

 

Kata kunci: Literasi, Budaya Sunda, Penulis Sunda, Pelestarian Budaya

 

ABSTRACT

This research aims to describe the author's experience in doing literacy as a Sundanese writer in Bandung City. The subject explored includes the driving aspects of being a Sundanese writer, choice of types and themes of writing, as well as aspects of hope in carrying out the role as a Sundanese writer. The qualitative method with a phenomenological approach is used to describe the experience of Sundanese writers in literacy. In-depth interviews and literature were used to obtain data from 8 writers who became informants of this study. The result shows that environment and reading habits are the main factors that encourage writers to write in the Sundanese language. Fiction and nonfiction literature contents are used to convey a writer’s thoughts and feelings through writing. Social problems, Sundanese classical history, local wisdom, humor, and actual events are the themes in the informants' writings. The aspect of hope as a Sundanese writer is to maintain the continuity of Sundanese language, and hope to bring Sundanese culture to global civilization.

Keywords: Literacy, Sundanese Culture, Sundanese Writers, Cultural Preservation


Teks Lengkap:

PDF

Referensi


Bruce, C. (2003). The Seven Faces of Information Literacy. Adelaide: Auslib Press.

Creswell, J. (1998). Qualitative Inquiry and Research Design: Choosing Among Five Traditions. USA: Sage Publication Inc.

Departemen Pendidikan Nasional. (2008). Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Keempat. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Firmansyah. (2015, Juni 15). Punah, 14 Bahasa Daerah di Indonesia. Retrieved Septembe 20, 2019, from Kompas.com: https://regional.kompas.com/

Koentjaraningrat. (2009). Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta: Rineka Cipta.

Surono, A. (2016, November 16). Dari Jumlah Penuturnya, Bahasa Jawa Terbesar Ke-11 di Dunia. Retrieved Mei 18 , 2019, from intisari.grid.id: https://intisari.grid.id/

Tarigan, H. G. (1992). Menulis sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa. Bandung: Angkasa.

Teeuw, A. (1984). Sastra dan Ilmu Sastra: Pengantar Teori Sastra. Bandung: Pustaka Jaya.




DOI: http://dx.doi.org/10.33603/signal.v8i1.3029

Refbacks

  • Saat ini tidak ada refbacks.


This work is licensed under a Creative Commons Attribution - Share Alike 4.0 International License